Jumat, 13 Mei 2016

Lyceum: Lahir dari Sebuah Tanda Tanya



"Berteduh untuk sekedar mengusap keringat, bernafas untuk sekedar hidup"


Sebuah perkenalan

Filsafat sedang sakit, barangkali sekarat, tapi saya yakin dunia (dunia, bukan tuhan atau nabi, tapi dunia) sedang berkata pada filsafat: "bangkit dan berjalanlah" - Alain Badiou

Dalam gempuran rutinitas yang sengit, ada jiwa-jiwa yang lelah yang mencari suaka barang sekedar berfikir tanpa tuntutan siapa-siapa. Dalam kepengapan ruang yang sesak, ada nafas yang mengiba ruang jernih tanpa polusi. Dalam antagonisme yang mengakar diantara serigala, ada nyawa yang mengais etik walau ia tahu kotanya tengah lantak dikubur zaman.

Kota dimana kita menetap hari ini adalah potret nyata ruang sesak yang tak ramah pada hal-hal yang baik. Kekumuhan asap mengepul disekitar penyangga langit tak kasat mata, menjelma selaksa udara itu sendiri. Perguruan tinggi, kumpulan bangun bidang yang disusun menjadi wahana dimana

Minggu, 08 Mei 2016

Reorientasi PMII di Tengah Arus Kekuasaan



Peringatan Harlah PMII ke 56


Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) beberapa waktu terakhir seperti mengalami kekosongan orientasi organisasi. Atau dalam istilah lain mungkin bisa disebut sebagai anomie dengan makna kekosongan nilai seperti yang dinyatakan Emile Durkheim. Anomie atau kekosongan orientasi organisasi ini mungkin muncul seiring dengan bergesernya arah organisasi PMII, dari yang lebih kuat dalam aspek kontrol terhadap sistem kekuasaan (pemerintah) menjadi masuk dalam lingkaran kekuasaan.

Memang yang sedang ada di lingkaran kekuasan itu adalah para alumni dan senior PMII, tapi dampaknya sangat jelas terasa terhadap iklim kaderisasi yang ada di berbagai level kelembagaan PMII. Satu sisi ini adalah capaian dari orientasi leading sector yang digagas oleh periode kepengurusan PB PMII Sebelumnya. Tapi dampak lain terhadap dinamika kaderisasi juga menggelisahkan.

Saat itulah kita perlu mengembalikan pijakan atau orientasi organisasi PMII. Sahabat Hawari Hamim dalam agenda sarasehan untuk memperingati Harlah PMII ke 56, yang diselenggarakan oleh PMII Rayon Fakultas Sastra UNEJ  (7/5/2016) menyatakan perlunya kembali

Sabtu, 07 Mei 2016

Membedah Film “Spot Light” Bersama AJI Jember



Membedah Film Spot Light Bersama AJI Jember


Nontor Bareng (Nobar) film “spotlight” (7/5/2016) yang diadakan oleh Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jember menghadirkan Mahbub Junaidi, mantan Wartawan Tempo yang sekarang menjadi komisioner Komisi Informasi Publik (KIP) Jawa Timur. Film yang bercerita mengenai peliputan investigasi oleh tim dengan sebutan spotlight ini sangat relevan tentunya dengan latar belakang Mahbub Junaidi sebagai wartawan Tempo. Karena Tempo memang sangat dikenal sebagai media yang concern dalam hal peliputan investigasi.

Nonton bareng dan diskusi ini dilaksanakan di sekretariat AJI Jember, Jl. Karimata No. 6A (belakang kantor Prosalina Radio) dimulai sekitar pukul 20.30 WIB sampai 23.30 WIB. Dihadiri oleh sejumlah anggota AJI Jember dan beberapa kawan dari pers mahasiswa yang tergabung dalam Persatuan Pers Mahasiswa Indonesia (PPMI) Jember.

Diskusinya berjalan cukup santai, dengan pengantar nonton bareng film yang berhasil meraih penghargaan Oscar tersebut, sehingga memberikan sedikit gambaran mengenai peliputan investigasi. Setidaknya ada tiga hal menurut Mahbub yang bisa dipetik dari film pengantar tersebut, pertama bagaimana

Selasa, 19 April 2016

Surga kecil untuk anak di Pinggir Hutan


                                      




Sudah lebih 3 bulan saya bekerja sebagai Pekerja Sosial Profesional. Tapi baru kali ini, pada bulan keempat (April 2016) bisa meluangkan waktu untuk menulis sedikit dari perjalanan pengalaman kerja itu. Sempat terfikirkan sebelumnya untuk menuliskannya. Karena banyak inspirasi dari pengalaman bertemu dengan berbagai fenomena masyarakat yang akan sangat bermanfaat di kemudian hari. Namun entah seperti sulit untuk melakukannya.

Kali ini saya berkunjung ke Dusun Sumber Kanco Desa Walidono Kecamatan Prajekan Bondowoso. Jalan menuju kesana bisa dibilang cukup sulit, karena harus

Jumat, 19 Februari 2016

Deideologisasi dan Deorganisasi dalam Tubuh Mahasiswa



Dinyatakan dalam buku panduan kaderisasi Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (2014:54) dalam konteks gerakan kampus, deideologisasi dan deorganisasi gerakan kampus  atau mahasiswa akhir-akhir ini semakin mencuat. Kalau pada masa orde baru, deideologisasi dan deorganisasi mahasiswa dilakukan oleh Negara melalui penerapan Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi Kegiatan Kemahasiswaan (NKK/BKK) kampus, kalau sekarang dilakukan dengan melalui sistem pasar.

Orientasi kampus lebih menitik beratkan pada penyelesaian kuliah dengan cepat dan nilai akademik, sedangkan pada sisi lain menafikkan organisasi kemahasiswaan. Sumber daya kampus yang akan melahirkan individu yang sukses tetapi

Sabtu, 13 Februari 2016

Mengenal Sumba: Kisah dari Teman Lama



Mentari sudah mulai meninggi, namun bumi Bondowoso masih diselimuti mendung. Udara yang masih terasa dingin belum juga tersentuh sinar mentari. Ditemani secangkir teh panas dan sepiring keripik singkong di ruang tamu, kami mulai bercerita tentang pengalaman masing-masing yang kami dapatkan.

Obrolan hangat bersama teman lama yang menyempatkan diri untuk pulang ke rumah Bondowoso, sebelum kembali lagi ke tempat perantauan. Sumba Nusa Tenggara Timur (NTT) adalah tempat merantaunya selama

Sabtu, 06 Februari 2016

Wujud Kedewasaan Berorganisasi



Berorganisasi butuh sikap dewasa. Kedewasaan itu tertuang dalam keputusan yg bersifat individu maupun kelompok. Sehingga membawa organisasi dalam masa kematangan.

Ibarat kita tinggal di sebuah rumah, apabila ada kerusakan dalam tersebut, maka kita harus memperbaikinya. Sebelum kerusakan semakin parah dan bahkan bisa merusak rumah tersebut. Ketika ada suatu hal yang kita anggap keliru, maka kita harus berupaya untuk memperbaikinya, bukan meninggalkannya. Demikianlah hakikat berdakwah. Karena kalau

Selasa, 02 Februari 2016

Memahami Dinamika Sosial



Tidak ada sesuatu yg tidak mengalami perubahan (terutama konteks sosial) di dunia ini, hal itu adalah apa yg sering kita sebut dengan dinamika sosial. Sebuah pemahaman dalam pengantar sosiologi di semester pertama dalam dunia perkuliahan. Karenanya kita harus bersiap untuk selalu menyambut perubahan sosial yg sedang atau akan terjadi. Salah satunya dengan memahami realitas sosial yg terjadi seiring berjalannya waktu.

Bagaimana cara untuk memahami realitas sosial tersebut? Salah satunya lagi adalah dengan membaca. Berupaya meningkatkan pemahanan unt melakukan pembacaan terhadap fenomena sosial.

Dialektika antara pemahaman dan dan pembacaan terhadap  fenomena sosial tentu tidak akan sampai pada titik final. Pemahaman akan mengalami perkembangan penafsiran terhadap pembacaan, dan pembacaan akan mengembangkan pemahaman, demikian seterusnya.

Jadi apakah kita sudah bersiap menyambut perubahan-perubahan di waktu yg akan datang. Sudah bersiap atau tidak, waktu akan tetap datang pada kita.

Sabtu, 30 Januari 2016

Era Knowledge Society


Kita sekarang hidup di era knowledge society, dimana piranti produksi paling penting bukanlah modal, bahan baku atau pekerja biasa, melainkan pekerja yg berpengetahuan (knowledge workers-KW).
Karena knowledge management (KM) telah menjadi poranti yg sangat penting unt memenangkan persaingan antar organisasi. KM, dimana SDM berusaha keras membangun budaya unt mengembangkan pengetahuan baru, menagkap dan menempatkan pada tempat dan waktu yg tepat.
Karenanya, setiap organisasibisa memastikan bahwa seluruh pegawainya punya kesempatan unt terus mengumpulkan pengetahuan dan memiliki sistem informasi yg terus menerus diperbarui.
Sambutan Prof. Dr. M. Irfan Islamy, MPA dalam buku "Knowledge Management" Kunci Sukses Inovasi Pemerintahan Daerah - karya Dr. M. R. Khairul Muluk.
Namun, penting diperhatikan adalah kesiapan para pekerja atau pegawai saat ini. Sinergi organisasi dengan pegawai, dimana rasa unt mengembangkan pengetahuan benar-benar dianggap sebagai sebuah kebutuhan bersama.
Dan dalam analisis pribadi mungkin pihak pemerintah baik pusat maupun daerah dalam hal ini masih jauh tertinggal dari pihak swasta. Kita juga masih akan menyaksikan bagaimana revolusi mental pada umumnya dan reformasi birokrasi pada khususnya akan menjadi sejarah upaya perbaikan secara menyeluruh kondisi bangsa pada umumnya dan pemerintah pada khususnya.
(Halmahera II/21, 31/1)