Sabtu, 16 November 2024

Dipertemukan Gus Dur, Kisah Persahabatan Mahfud MD dan Luhut Binsar Pandjaitan



Dalam episode pertama "Ruang Sahabat" yang tayang perdana pada 15 November 2024, Luhut Binsar Pandjaitan dan Mahfud MD membahas pentingnya persahabatan dalam pemerintahan, berbagi cerita tentang pengalaman mereka bekerja sama, dan menyoroti idealisme bersama untuk Indonesia. Mereka juga mengingat momen-momen bersejarah, termasuk hubungan dengan tokoh-tokoh penting seperti Gus Dur, serta tantangan yang dihadapi dalam menjalankan tugas negara. Diskusi ini memperlihatkan bagaimana persahabatan dan kerja sama dapat mengatasi perbedaan untuk mencapai tujuan bersama.

Pentingnya persatuan dalam pemerintahan meskipun ada perbedaan pandangan
  1. Luhut menekankan bahwa dalam membangun negara, penting untuk tidak menjadikan orang lain sebagai musuh.
  2. Luhut berbicara tentang pentingnya menerima perbedaan dan bagaimana mereka dapat bersatu dalam kabinet Jokowi.
  3. Luhut menyebutkan idealisme yang sama tentang Indonesia yang dibangun oleh Gus Dur, menunjukkan bahwa meskipun berbeda, mereka memiliki tujuan yang serupa.
  4. Luhut mengingat kembali persahabatan lama dengan Mahfud dan pentingnya menjaga hubungan baik meskipun dalam konteks politik yang beragam.

Pandangan dan pengalaman perjalanan politik, termasuk interaksi dengan Gus Dur
  1. Ia menceritakan perjalanan ke Singapura dan perintah dari Presiden Habibi.
  2. Luhut berusaha untuk membawa Gus Dur ke Singapura untuk diskusi penting.
  3. Luhut terkejut ketika Gus Dur menyebutkan bahwa ia akan segera menjadi presiden.

Pemahaman historis dalam konteks kepemimpinan
  1. Luhut mengungkapkan kekagumannya terhadap kemampuan Gus DUr dalam mengingat detail-detail penting.
  2. Gus Dur menunjukkan pemahaman yang mendalam tentang isu-isu ekonomi dan sejarah, yang menunjukkan kecerdasannya dalam berpolitik.
  3. Luhut menekankan pentingnya kejelasan dan integritas dalam pemerintahan, serta menanggapi tuduhan yang tidak berdasar mengenai pelanggaran hukum terhadap Gus Dur.

Luhut membantu keuangan Mahfud MD
  1. Pembicaraan tentang kesetiaan kepada Gus Dur dan pengalaman pribadi dalam konteks politik.
  2. Pentingnya budaya dalam konteks kerjasama dan bagaimana masyarakat saling membantu.
  3. Menjelaskan istilah 'bisyarah' dalam budaya NU dan bagaimana hal ini berhubungan dengan interaksi sosial.

Penegakan hukum di Indonesia
  1. Luhut membahas pentingnya penegakan hukum terkait penyelundupan dan tindakan tegas yang harus diambil.
  2. Kasus penyelundupan berakhir dengan beberapa anggota kru dihukum penjara dan denda, namun pemerintah kemudian mengintervensi.
  3. Luhut mengungkapkan dukungannya terhadap idealisme Mahfud dalam pemerintahan dan komitmennya untuk melakukan yang terbaik bagi republik.
  4. Perdebatan hukum yang terjadi di kantor Luhut terkait isu-isu seperti kelapa sawit menunjukkan tantangan yang dihadapi dalam penegakan hukum.

Kamis, 04 Januari 2024

Label Seseorang Tidak Bisa Dilihat dari Statusnya, Melainkan Justru dari Perjalanan Hidupnya


Pilihan Budiman Sujatmiko untuk mendukung Prabowo Subianto pada Pilpres 2024 ini memang seperti penuh kejutan. Seorang aktivis papan atas seperti Budiman dan seorang kader partai PDIP mendukung Prabowo Subianto. Seorang Jenderal yang seringkali diidentikkan dengan persoalan pelanggaran HAM karena kasus penculikan para aktivis oleh Tim Mawar, kesatuan yang dipimpinnya.

Budiman menarasikan bahwa era tahun 1998 di Indonesia adalah pertarungan antara kehendak sejarah dan kehendak penguasa. Dimana sejarah bergerak ke arah demokrasi, sedangkan penguasa pada waktu itu Presiden Soeharto ingin tetap mempertahankan kekuasaannya yang otoriter.

Menengok pada perjalanan hidup seorang Budiman yang sedemikian rupa, tentu memunculkan tanda tanya besar ketika tiba-tiba dirinya memilih mendukung Prabowo dalam kontestasi Pemilihan Presiden tahun 2024. Namun, itu adalah pilihan dan tentu tidak bisa bagi siapapun untuk benar-benar memahami akan pilihan tersebut. 

Satu hal yang dikatakannya saat di Podcast Meery Riana adalah dirinya akan mendedikasikan sisa hidupnya untuk keadilan dan kemajuan apapun resiko dan konsekuensinya. 

Dari sini saya mulai berpikir bahwa dalam kehidupan tidak ada yang benar-benar bisa dicampur adukkan. Bahwa seorang aktivis, nasionalis dan ideologis akan dilihat pilihan politiknya sebagai pilihan seorang aktivis, nasionalis dan ideologis.

Seorang yang memang selalu bersikap mengedepankan politik praktis akan selalu dilihat dalam pilihan-pilihannya sebagai pilihan politik.

Seorang spiritualis dan agamawan yang selalu bersikap mengedapankan aspek spiritual dan ajaran agama akan silihat dalam pilihan-pilihannya dengan berdasarkan spiritualitas dan agama.

Tentu yang menjadi prasyarat adalah bahwa itu semua tidak hanya sebatas label saja, namun terlihat dalam track record selama hidupnya.

Sabtu, 08 Juli 2017

Makna Kembali Pada Fitrah Bagi Warga Pergerakan





oleh Imam Sunarto


Halal bihalal
Ramadhan telah berlalu, demikian juga dengan idul fitri. Hampir seluruh masyarakat terutama yang beragama islam saling bermaaf-maafan. Banyak juga warga masyarakat yang kemudian menyelenggarakan halal bihalal bersama kelompoknya. Untuk menghidarkan diri dari hanya sebatas seremonial, maka diperlukanlah pemahaman mengenai apa sebenarnya halal bihalal itu dan apa hakikat kembali pada fitrah.

KH. M. Nur Hasan, M.Hum, dalam acara halal bihalal yang diadakan oleh pengurus PMII Rayon FISIP UNEJ (7/7), menyatakan bahwa  masing-masing kita (warga pergerakan) dibentuk oleh pengalaman-pengalaman agar menjadi seorang kader yang berkarakter sebagaimana diharapkan oleh nilai-nilai dasar pergerakan (NDP) yang jadikan pedoman dan sekaligus harapan  untuk pribadi kader secara keseluruhan.

Minggu, 29 Januari 2017

Ali Masykur Musa: Membumikan Islam Nusantara


Bedah Buku Membumikan Islam Nusantara



Ada banyak cara penerapan islam di dunia. Cara penerapan islam di Indonesia ini yang disebut dengan islam nusantara. Hal itu disampaikan Ali Masykur Musa pada acara bedah buku Membumikan Islam Nusantara yang diselenggarakan oleh PMII Rayong FISIP UNEJ di gedung KAUJE (29/01/2017).


Dalam ingatan penulis, ini mirip dengan konsep pribumisasi islam yang pernah ditulis Gus Dur. Hal itu wajar mengingat kedekatan Ali Masykur Musa dengan mantan ketua PB NU tersebut. Berawal dari pertanyaan yang sangat mendasar, yaitu bagaimana islam bisa terus diterapkan secara berkelanjutan. Karena islam sendiri tentu haruslah shoheh fii kulli zaman wa makan (baik di dalam semua zaman dan tempat).


Ali Masykur Musa yang juga mantan Ketua Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PB PMII) ini menyampaikan penerapan dan penyebaran islam di Indonesia berbeda dengan yang ada di belahan bumi yang lain, seperti di Spanyol. Walau pernah mengalami kejayaan karena penaklukan Konstantinopel melalui gerakan militerary power namun demikian hanya berusia beberapa waktu saja, dan penduduknya kembali menganut agama nasrani.


Menurut Ali Masykur musa, hal itu dikarenakan military power pasti dilakukan dengan cara represif. Walau kelihatan berjaya dan menguasai juga tampaknya menjadi mayoritas, sebenarnya mereka mengikuti itu karena tekanan dan paksaan.


Berbeda dengan di Indonesia, walau pernah menggunakan military power, pada masa kerajaan Majapahit, tepatya sebelum masa Raja Brawijaya V. Tentu upaya itu menemui banyak kegagalan, karena kuatnya kerajaan Majapahit kala itu. Namun setelah Raja Brawijaya V berkuasa, upaya penyebaran islam dilakukan dengan cara budaya, yang dilakukan oleh para Wali Songo.


Sehingga, masyarakat mengikuti ajaran islam dengan sukarela dan bukan karena paksaan. Demikian bercermin pada sejarah penyebaran islam di Nusantara harusnya dilakukan. Karena cara berjuang itu dilakukan dengan ramah, bukan marah, dilakukan dengan merangkul bukan memukul. Dan cara penyebaran islam melalui kebudayaan ini juga melahirkan peradaban (civilization).


Ali Masykur Musa mengatakan islam tidak harus dibangun melalui sebuah bentuk negara (islam), karena islam sendiri tidak terdapat dalam satu sistem negara yang tunggal. Seperti model pemerintahan kontemporer (contemporary goverment) saat ini yang mengatasnamakan negara islam, mulai dari Iran, Arab Saudi, mesir, Uni Emirat Arab, dll. Negara-negara itu tidak memiliki satu sistem bernegara yang sama, sehingga bagaimana yang disebut negara islam kemudian? Sedangkan Indonesia yang dasar negara juga ikut dirumuskan dan disusun oleh KH. Wahid Hasyim yang sebagai putra Hadratus Syaikh KH. Hasyim As’arie tentu tidak diragukan lagi pemahaman keislamannya yang utuh.


Menurut Ali Masykur Musa, yang lebih penting adalah memperjuangkan dari aspek substansi dari pada hanya sekedar bentuk. Islam tidak harus ditegakkan dengan negara (bentuk), melainkan dengan etika (substansi). Karena Rasul sendiri menyampaikan diutusnya beliau adalah untuk menyempurnakan ahlak atau etika (liutammima makarimal akhlaq).

Jumat, 13 Mei 2016

Lyceum: Lahir dari Sebuah Tanda Tanya



"Berteduh untuk sekedar mengusap keringat, bernafas untuk sekedar hidup"


Sebuah perkenalan

Filsafat sedang sakit, barangkali sekarat, tapi saya yakin dunia (dunia, bukan tuhan atau nabi, tapi dunia) sedang berkata pada filsafat: "bangkit dan berjalanlah" - Alain Badiou

Dalam gempuran rutinitas yang sengit, ada jiwa-jiwa yang lelah yang mencari suaka barang sekedar berfikir tanpa tuntutan siapa-siapa. Dalam kepengapan ruang yang sesak, ada nafas yang mengiba ruang jernih tanpa polusi. Dalam antagonisme yang mengakar diantara serigala, ada nyawa yang mengais etik walau ia tahu kotanya tengah lantak dikubur zaman.

Kota dimana kita menetap hari ini adalah potret nyata ruang sesak yang tak ramah pada hal-hal yang baik. Kekumuhan asap mengepul disekitar penyangga langit tak kasat mata, menjelma selaksa udara itu sendiri. Perguruan tinggi, kumpulan bangun bidang yang disusun menjadi wahana dimana

Minggu, 08 Mei 2016

Reorientasi PMII di Tengah Arus Kekuasaan



Peringatan Harlah PMII ke 56


Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) beberapa waktu terakhir seperti mengalami kekosongan orientasi organisasi. Atau dalam istilah lain mungkin bisa disebut sebagai anomie dengan makna kekosongan nilai seperti yang dinyatakan Emile Durkheim. Anomie atau kekosongan orientasi organisasi ini mungkin muncul seiring dengan bergesernya arah organisasi PMII, dari yang lebih kuat dalam aspek kontrol terhadap sistem kekuasaan (pemerintah) menjadi masuk dalam lingkaran kekuasaan.

Memang yang sedang ada di lingkaran kekuasan itu adalah para alumni dan senior PMII, tapi dampaknya sangat jelas terasa terhadap iklim kaderisasi yang ada di berbagai level kelembagaan PMII. Satu sisi ini adalah capaian dari orientasi leading sector yang digagas oleh periode kepengurusan PB PMII Sebelumnya. Tapi dampak lain terhadap dinamika kaderisasi juga menggelisahkan.

Saat itulah kita perlu mengembalikan pijakan atau orientasi organisasi PMII. Sahabat Hawari Hamim dalam agenda sarasehan untuk memperingati Harlah PMII ke 56, yang diselenggarakan oleh PMII Rayon Fakultas Sastra UNEJ  (7/5/2016) menyatakan perlunya kembali

Sabtu, 07 Mei 2016

Membedah Film “Spot Light” Bersama AJI Jember



Membedah Film Spot Light Bersama AJI Jember


Nontor Bareng (Nobar) film “spotlight” (7/5/2016) yang diadakan oleh Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jember menghadirkan Mahbub Junaidi, mantan Wartawan Tempo yang sekarang menjadi komisioner Komisi Informasi Publik (KIP) Jawa Timur. Film yang bercerita mengenai peliputan investigasi oleh tim dengan sebutan spotlight ini sangat relevan tentunya dengan latar belakang Mahbub Junaidi sebagai wartawan Tempo. Karena Tempo memang sangat dikenal sebagai media yang concern dalam hal peliputan investigasi.

Nonton bareng dan diskusi ini dilaksanakan di sekretariat AJI Jember, Jl. Karimata No. 6A (belakang kantor Prosalina Radio) dimulai sekitar pukul 20.30 WIB sampai 23.30 WIB. Dihadiri oleh sejumlah anggota AJI Jember dan beberapa kawan dari pers mahasiswa yang tergabung dalam Persatuan Pers Mahasiswa Indonesia (PPMI) Jember.

Diskusinya berjalan cukup santai, dengan pengantar nonton bareng film yang berhasil meraih penghargaan Oscar tersebut, sehingga memberikan sedikit gambaran mengenai peliputan investigasi. Setidaknya ada tiga hal menurut Mahbub yang bisa dipetik dari film pengantar tersebut, pertama bagaimana