Pilihan Budiman Sujatmiko untuk mendukung Prabowo Subianto pada Pilpres 2024 ini memang seperti penuh kejutan. Seorang aktivis papan atas seperti Budiman dan seorang kader partai PDIP mendukung Prabowo Subianto. Seorang Jenderal yang seringkali diidentikkan dengan persoalan pelanggaran HAM karena kasus penculikan para aktivis oleh Tim Mawar, kesatuan yang dipimpinnya.
Budiman menarasikan bahwa era tahun 1998 di Indonesia adalah pertarungan antara kehendak sejarah dan kehendak penguasa. Dimana sejarah bergerak ke arah demokrasi, sedangkan penguasa pada waktu itu Presiden Soeharto ingin tetap mempertahankan kekuasaannya yang otoriter.
Menengok pada perjalanan hidup seorang Budiman yang sedemikian rupa, tentu memunculkan tanda tanya besar ketika tiba-tiba dirinya memilih mendukung Prabowo dalam kontestasi Pemilihan Presiden tahun 2024. Namun, itu adalah pilihan dan tentu tidak bisa bagi siapapun untuk benar-benar memahami akan pilihan tersebut.
Satu hal yang dikatakannya saat di Podcast Meery Riana adalah dirinya akan mendedikasikan sisa hidupnya untuk keadilan dan kemajuan apapun resiko dan konsekuensinya.
Dari sini saya mulai berpikir bahwa dalam kehidupan tidak ada yang benar-benar bisa dicampur adukkan. Bahwa seorang aktivis, nasionalis dan ideologis akan dilihat pilihan politiknya sebagai pilihan seorang aktivis, nasionalis dan ideologis.
Seorang yang memang selalu bersikap mengedepankan politik praktis akan selalu dilihat dalam pilihan-pilihannya sebagai pilihan politik.
Seorang spiritualis dan agamawan yang selalu bersikap mengedapankan aspek spiritual dan ajaran agama akan silihat dalam pilihan-pilihannya dengan berdasarkan spiritualitas dan agama.
Tentu yang menjadi prasyarat adalah bahwa itu semua tidak hanya sebatas label saja, namun terlihat dalam track record selama hidupnya.