Sabtu, 18 Januari 2014

Mengengok Resolusi Jihad, menatap NKRI


oleh Imam Sunarto

“Bagi tiap-tiap orang Islam, laki-laki, perempoean, anak-anak (bersenjata ataoe tidak) yang berada dalam djarak lingkaran 94 km dari Soerabaja, Fardloe ‘Ain hukumnya untuk berperang  melawan moesoeh oentoek membela Soerabaja..”

Begitulah penggalan kalimat resolusi jihad NU yang dicetuskan pada tanggal 22 Oktober 1945 sebagai buah keputusan yang dihasilkan dari Rapat Besar Konsul-konsul NU se-Jawa dan Madura, 21-22 Oktober di Surabaya, Jawa Timur dan ditandatangani oleh Hadrotus Syaikh K.H. Hasyim Asy’ari sekaligus menjadi pengobar semangat perlawanan terhadap penjajah, khususnya kaum muslim Indonesia. Kalimat yang sangat operasional ini merupakan kalimat yang dipelopori oleh

Kamis, 09 Januari 2014

Dampak laten dari aturan yang memasung kesadaran masyarakat perkebunan


Oleh Imam sunarto
(15 Nopember 2013)
Masyarakat perkebunan
Perkebunan, warisan kolonial sejak abad ke-18 yang masih mampu mempertahankan eksistensinya sampai dengan saat ini. sistem perkebunan ini erat kaitannya dengan kolonialisme dan modernisasi yang terjadi di Indonesia. Ekspansi kekuasaan kolonial pada abad ke-19 merupakan gerakan kolonialisme yang paling berpengaruh terhadap perubahan politik, ekonomi, sosial, dan kebudayaan di negara yang dijajah. Masuknya kekuasaan politik dan ekonomi Barat telah mengakibatkan terjadinya proses transformasi struktural dari struktur politik dan ekonomi tradisional ke arah struktur politik dan ekonomi kolonial dan modern.

Dengan segudang permasalahan yang sangat kompleks, seolah membentuk garis siklus yang tidak pernah terputus. letak geografis yang pada umumnya perkebunan jauh dari akses strategis untuk

Quo vadis Negara kita: Demokrasi Mati Lampu


oleh Imam Sunarto
Agenda penyelamatan partai menjadi urgen bagi siapapun yang merasa terlibat didalamnya, termasuk orang yang menempati pucuk pimpinan tertinggi dalam sebuah Negara seperti yang disampaikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam harian Kompas 09/02, bahwa “tekad kami ingin melakukan langkah cepat dan nyata bagi penyelamatan partai”.  Namun bagaimanapun penyelamatan partai yang tentu bukan hal yang mudah dihadapkan bersamaan dengan perannya yang ganda ini. Logika sederhana mengatakan bahwa seseorang tidak dapat berada di dua tempat dalam waktu yang bersamaan. Apalagi masih terdapat adu kekuatan didalamnya.
Dimensi partai politik memang tidak seperti lembaga lain yang bergerak tidak dibidang politik, ada misalkan industri, pendidikan, perdagangan, dst. dimana aktivitas mereka memiliki porsi yang jelas dalam