Jumat, 19 Februari 2016

Deideologisasi dan Deorganisasi dalam Tubuh Mahasiswa



Dinyatakan dalam buku panduan kaderisasi Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (2014:54) dalam konteks gerakan kampus, deideologisasi dan deorganisasi gerakan kampus  atau mahasiswa akhir-akhir ini semakin mencuat. Kalau pada masa orde baru, deideologisasi dan deorganisasi mahasiswa dilakukan oleh Negara melalui penerapan Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi Kegiatan Kemahasiswaan (NKK/BKK) kampus, kalau sekarang dilakukan dengan melalui sistem pasar.

Orientasi kampus lebih menitik beratkan pada penyelesaian kuliah dengan cepat dan nilai akademik, sedangkan pada sisi lain menafikkan organisasi kemahasiswaan. Sumber daya kampus yang akan melahirkan individu yang sukses tetapi
tidak memilki kepekaan sosial dan tidak mempunyai komunitas (organisasi). Inilah yang akan menjadi tantangan organisasi mahasiswa kedepan, baik intra kampus maupun ekstra kampus seperti,

Seperti halnya tesis Daniel bell,  tentang menciptakan masyarakat tanpa ideologi, tanpa organisasi. Ukuran individu itu yang akan dilihat dari kompetensinya. Ideologi kemudian bukanlah menjadi bahasan penting, jika perut masih lapar. Organisasi bukanlah menjadi hal yang penting jika kompetensi dan kesejahteran masih belum terwujud.

Jika ini yang terjadi, maka kedepan, Bangsa ini hanya akan bertumpu pada liberalisme individu, bukan pada kekuatan kolektif masyarakat. Sementara Bangsa ini didirikan atas prakarsa munculnya berbagai organisasi dari komunitas kebangsaan berbasis suku, agama, budaya, lalu menjadi Indonesia. Sumpah pemuda dan perlawanan berbagai organisasi pada masa kolonial menunjukkan bahwa Bangsa ini diperjuangkan atas dasar gotong-royong , kolektivisme, dan tradisi.

Oleh karena itu, PMII sendiri harus berupaya mengantisipasi berbagai hal tersebut. pertama, mengantisipasi munculnya otonomi gerakan yang berimplikasi pada tidak akan jalannya disiplin kesamaan gerak, ideologi dan cara pandang dalam mencapai tujuan organisasi. Kedua, liberalisasi organisasi yang akan berakibat pada lemahnya komando, intruksi. Ketiga, harus mampu menjawab dan menurunkan secara konsepsional antara memperkuat ideologi dengan kapasitas yang pada akhirnya mahasiswa ber PMII akan mendapatkan tiga hal sebagai keunggulannya, yaitu: belajar berorganisasi dan kepemimpinan, belajar pengembangan akademik dan belajar berideologi.

Mengingat tantangan sudah semakin berada di depan mata, sementara kita perlu mempersiapkan banyak hal, maka organisasi PMII sudah saatnya berfikir strategis dan merenungkan kembali agar semua perdebatan di tubuh PMII, khususnya bersifat teknis yang selalu berulang-ulang segera dihentikan. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar