Mentari sudah mulai meninggi, namun bumi Bondowoso masih diselimuti mendung. Udara yang masih terasa dingin belum juga tersentuh sinar mentari. Ditemani secangkir teh panas dan sepiring keripik singkong di ruang tamu, kami mulai bercerita tentang pengalaman masing-masing yang kami dapatkan.
Obrolan hangat bersama teman lama yang menyempatkan diri untuk pulang ke rumah Bondowoso, sebelum kembali lagi ke tempat perantauan. Sumba Nusa Tenggara Timur (NTT) adalah tempat merantaunya selama
satu tahun terakhir.
Dia mengikuti program SM3T dari Dikti. Sebuah program mulia tentunya dari pemerintah, namun apabila dijalani sepenuh hati oleh para peserta. Dia bersama 5 orang lainnya disebar dalam satu kecamatan dengan masing-masing ditempatkan pada sekolah di satu desa.
Awalnya temanku tingal di mess dekat sekolah. Namun karena sering diganggu warga sekitar, dia melapor pada pihak kecamatan dan kemudian dipindah di mess lain yang berjarak sekitar 2 km dari sekolah. Setiap hari dilalui dengan berjalan kaki, tidak ada listrik dan sinyal ponsel.
Untuk mendapatkan listrik yang bisa hidup selama 12 jam (mulai pukul 18.00 WIB sampai pukul 06.00 WIB) Dia harus turun ke kecamatan. Jalan berbatu yang bisa dilalui dengan ojek sepeda motor. Ongkos ojek untuk sekali berangkat Rp 20 ribu. Satu daerah yang menjadi bagian dari Indonesia yang sudah merdeka.
Dia mengatakan, ada sejumlah 8 guru di sekolah itu. Tapi karena jarangnya guru yang hadir, seolah temanku merasa kalau sekolah itu seperti miliknya pribadi. Hati ketika menjalani pengabdian pada kondisi seperti itu pasti tak akan mampu berbohong. Temanku bercerita bahwa yang paling mampu membuatnya bertahan adalah mereka para muridnya.
Satu kelas yang diisi oleh semua murid yang duduk di kelas 1 sampai kelas 6. Bagaimana metode pengajarannya? Sulit dibayangkan, apalagi harus mengukur kemampuan para murid dengan kondisi seperti itu. Jauh berbanding terbalik dengan pendidikan di kota besar yang bahkan sudah melewati jenjang untuk memgejar prestasi. Wajah lain dunia pendidikan di bumi pertiwi.
Sampai saat ini, murid-murid itu masih sering menelfon temanku, karena itu mereka harus turun ke kecamatan. Hanya untuk seledar menanyakan kabarnya dan sedikit bercerita tentang keadaan disana. Tak terasa adzan dzuhur sudah dikumandangkan dan siang pun akan segera berlalu. Aku harus izin pamit undur diri.
Dan kami pun mengakhiri perjumpaan itu. Semoga pengabdianmu selalu disertai rasa tulus dan ikhlas dengan berharap ridho Sang Maha Pencipta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar