Sudah lebih 3 bulan saya bekerja sebagai Pekerja Sosial Profesional. Tapi baru kali ini, pada bulan keempat (April 2016) bisa meluangkan waktu untuk menulis sedikit dari perjalanan pengalaman kerja itu. Sempat terfikirkan sebelumnya untuk menuliskannya. Karena banyak inspirasi dari pengalaman bertemu dengan berbagai fenomena masyarakat yang akan sangat bermanfaat di kemudian hari. Namun entah seperti sulit untuk melakukannya.
Kali
ini saya berkunjung ke Dusun Sumber Kanco Desa Walidono Kecamatan Prajekan
Bondowoso. Jalan menuju kesana bisa dibilang cukup sulit, karena harus
melewati jalan tanah berbatu dan jembatan kayu yang cukup panjang membentang diatas sungai. Sampai-sampai Rekan saya sering meminta untuk turun dari sepeda motor saat mau melintas.
melewati jalan tanah berbatu dan jembatan kayu yang cukup panjang membentang diatas sungai. Sampai-sampai Rekan saya sering meminta untuk turun dari sepeda motor saat mau melintas.
Disana
ada sebuah keluarga Ibu Masruroh Muhtar, atau lebih akrab dengan panggilan Umi,
panggilan untuk seorang ibu. Beliau bersama dengan dua anaknya yang masing-masing
M. Toha Yasin berumur 18 tahun (laki-laki) dan Muzaiyina 16 tahun (perempuan). Mereka
sebelumnya tinggal di Situbondo dan baru pindah ke Bondowoso sekitar 8 bulan
yang lalu. Kami disambut dengan sangat hangat. Mulai dari anak-anak balita
sampai lansia, kohesi sosial yang begitu terlihat jelas.
Tidak
disampaikan alasan mendasar dari kepindahan mereka. Umi hanya menyampaikan
bahwa itu adalah kehendak Allah. Kalimat khas bagi orang pesantren yang tentu
mengerti ajaran agama islam. Disana Umi bersama dua anaknya dibantu masyarakat
sekitar mendirikan sebuah Yayasan, Nurul Ihsan Jadid namanya. Karena pada waktu
tinggal di Situbondo mereka memiliki Yayasan dengan nama Nurul Ihsan (Sekarang kelola
oleh Anak pertamanya)
Bahwa
kalau Umi memilh untuk tinggal di Situbondo, jelas kehidupannya akan jauh lebih
enak dari pada di tempat terpencil yang sudah hampir masuk daerah hutan seperti
di Dusun Sumber Kanco ini. Tapi itu tetap Umi lakukan.
Banyak
ranah yang bisa dijangkau oleh kelembagaan dengan nama yayasan. Mulai dari
pendidikan, sosial, ekonomi dan budaya. Yayasan Nurul Ihsan Jadid ini bergerak
di ranah sosial, pendidikan dan keagamaan. Salah satu bentuk kendaraan sosial dalam upaya
pemberdayaan masyarakat seperti yang diungkapkan Drs. Sanapiah Faisal dalam
bukunya Menggalang Gerakan Bangun Diri Masyarakat Desa (1981).
Kendaraan sosial
Kendaraan
disini dimaksudkan sebagai organisasi, perkumpulan, atau bentuk pengelompokan
lainnya yang relatif permanen dan terbuka bagi masyarakat setempat. Kedudukan
kendaraan sosial ini penting, karena dari sana dapat digalang gerakan bangun
diri masyarakat desa. Kegagalan pembangunan desa salah satunya karena tidak
adanya motor penggerak yang berasal dari kendaraan sosial tersebut. Adanya
kendaraan sosial harus digalang dengan sungguh-sungguh oleh pemerintah, seperti
dengan memberikan bimbingan, menopang keperluan yang tidak dapat mereka jangkau
sendiri, melakukan monitoring setara kontinyu, dst.
Sebagaimana
mengenali para tokoh berpengaruh, prinsip dan caranya sama bisa dilakukan
terhadap kendaraan sosial, yaitu dengan sebanyak mungkin mendengar, melihat dan
bertanya. Orang pelopor pada kendaraan sosial juga harus dikenal. Pamor dan
aktivitas kendaraan sosial, juga ciri khas arah dan luas jangkauan dari
kendaraan sosial. Juga tidak kalah penting adalah mengenali jalinan hubungan
antar kendaraan sosial setempat, atau dengan pihak-pihak lain yang dapat
menunjang potensi atau tujuan dari kendaraan sosial yang ada.
Pembinaan terhadap anak
Disana
baru ada beberapa bangunan yang masih sederhana disana, yaitu rumah Umi,
Musholah dan Taman Anak Sejahtera (KB PAUD namun ditutup karena ditentang
sebagian warga). Umi mengenola Taman Anak Sejahtera (TAS), yaitu semacam tempat
penitipan anak bagi orang tua yang sibuk bekerja. Mirip seperti Taman Penitipan
Anak, tapi sasaran TAS anak anak yang dari keluarga kurang mampu. Komponen
bangunan yang terutama dari kayu dan bambu banyak disumbang dari masyarakat
sekitar. Bahkan tanah yang ditempati pun merupakan hibah dari warga sekitar.
Ada
sekitar 8 sampai 18 anak yang setiap hari dititipkan di TAS yang dikelola Umi.
Kesemuanya berusia masih di bawah 5 tahun. Kebanyakan orang tua anak-anak itu
berkerja di sawah dan di ladang. Dari pengakuan warga sekitar yang menitipkan
anaknya, sudah terlihat banyak perubahan yang terjadi, bahkan untuk ukuran
waktu seminggu mereka dititipkan. Terutama masalah ahlak dan ubudiah seperti
menemui tamu dan membaca beberapa doa.
Memang
demikian pola yang dibangun di TAS tersebut. Kesemuanya disampaikan sambil
bermain, karena usia anak-anak apalagi masih dibawah 5 tahun masih sangat suka
bermain. Dan hal itu terbukti efektif untuk menanamkan nilai-nilai akhlakul
karimah sejak dini. Anak-anak itu diajak menggambar, mewarnai, berhitung dan
berdoa. Bahkan saat Adzan Dzuhur, mereka berlomba-lomba untuk ambil wudhu dan
ke musholah.
Keluarga
adalah komponen utama dan ruang sosialisasi pertama untuk anak. Karenannya
penguatan keluarga sangatlah penting. Tapi tentu tidak bisa dilakukan dengan
instan dan perlu waktu yang cukup lama untuk itu. Sementara saya saksikan di
TAS Nurul Ihsan Jadid ini, dimana anak-anak sudah ditanamkan akhlakul karimah
dan cara-cara ubudiah yang saya yakin masih belum bisa diterapkan di dalam
keluarga sekitar.
Pola
pendampingan dan pengasuhan dari beberapa ibu disana dan bahkan langsung
dilakukan oleh putri Umi sendiri yang masih berumur 16 tahun. Tapi sudah paham
betul bagaimana mengasuh dan mendampingi anak-anak.
Persoalannya
adalah fasilitas yang masih sangat sederhana, seperti tidak ada tempat bermain
dengan berbagai fasilitas bermain anak pada umumnya, tempat tidur anak yang
masih sangat terbatas, kamar mandi anak, dll. Semua itu tentu sangatlah
penting, hasil diskusi saya dengan rekan kerja saya. Tapi bagaimana cara
mengukurnya, kalau dibandingkan dengan fasilitas TPA atau TAS yang ada di pusat
kota tentu sangat jauh.
Tapi
kalau kita bandingkan dengan standar masyarakat sekitar mungkin hal itu malah
lebih baik. Tentu dikemudian hari, fasilitas itu memang dibutuhkan untuk
menunjang hak dasar anak, seperti perlindungan, pendidikan, kesehatan, dll.
Tapi untuk sementara dengan pengakuan para orang tua anak, bahwa sudah banyak
perkambangan dari anak terutama terkait akhlak dan ubudiah itu sudah cukup.
Kegiatan sosial lain
Selain
mengelola TAS, Umi juga mengelola Panti
Jompo, ada beberapa Lansia yang berada disana dengan tempat seadanya yang
terbuat dari bambu. Ada yang terus tinggal, tapi ada juga yang kalau malam
pulang ke rumah. Mereka mengaku kerasan disana.
Membabat
alas, membangun masyarakat pinggiran, kepedulian sosial yang tinggi tercermin
dalam jalan perjuangan yang ditempuh Umi. Beliau mengatakan, “Sebelum ajal
menjemput saya, saya ingin berjuang bersama masyarakat, membantu masyarakat
terutama kaum dhuafa, memberikan manfaat yang seluas-luasnya kepada mereka”.
Semoga
kesehatan selalu dikaruniakan kepada engkau dan keluarga serta masyarakat
disana. Serta istiqomah pada garis perjuangan itu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar