Selasa, 19 April 2016

Surga kecil untuk anak di Pinggir Hutan


                                      




Sudah lebih 3 bulan saya bekerja sebagai Pekerja Sosial Profesional. Tapi baru kali ini, pada bulan keempat (April 2016) bisa meluangkan waktu untuk menulis sedikit dari perjalanan pengalaman kerja itu. Sempat terfikirkan sebelumnya untuk menuliskannya. Karena banyak inspirasi dari pengalaman bertemu dengan berbagai fenomena masyarakat yang akan sangat bermanfaat di kemudian hari. Namun entah seperti sulit untuk melakukannya.

Kali ini saya berkunjung ke Dusun Sumber Kanco Desa Walidono Kecamatan Prajekan Bondowoso. Jalan menuju kesana bisa dibilang cukup sulit, karena harus
melewati jalan tanah berbatu dan jembatan kayu yang cukup panjang membentang diatas sungai. Sampai-sampai Rekan saya sering meminta untuk turun dari sepeda motor saat mau melintas. 

Disana ada sebuah keluarga Ibu Masruroh Muhtar, atau lebih akrab dengan panggilan Umi, panggilan untuk seorang ibu. Beliau bersama dengan dua anaknya yang masing-masing M. Toha Yasin berumur 18 tahun (laki-laki)  dan Muzaiyina 16 tahun (perempuan). Mereka sebelumnya tinggal di Situbondo dan baru pindah ke Bondowoso sekitar 8 bulan yang lalu. Kami disambut dengan sangat hangat. Mulai dari anak-anak balita sampai lansia, kohesi sosial yang begitu terlihat jelas.

Tidak disampaikan alasan mendasar dari kepindahan mereka. Umi hanya menyampaikan bahwa itu adalah kehendak Allah. Kalimat khas bagi orang pesantren yang tentu mengerti ajaran agama islam. Disana Umi bersama dua anaknya dibantu masyarakat sekitar mendirikan sebuah Yayasan, Nurul Ihsan Jadid namanya. Karena pada waktu tinggal di Situbondo mereka memiliki Yayasan dengan nama Nurul Ihsan (Sekarang kelola oleh Anak pertamanya)

Bahwa kalau Umi memilh untuk tinggal di Situbondo, jelas kehidupannya akan jauh lebih enak dari pada di tempat terpencil yang sudah hampir masuk daerah hutan seperti di Dusun Sumber Kanco ini. Tapi itu tetap Umi lakukan. 

Banyak ranah yang bisa dijangkau oleh kelembagaan dengan nama yayasan. Mulai dari pendidikan, sosial, ekonomi dan budaya. Yayasan Nurul Ihsan Jadid ini bergerak di ranah sosial, pendidikan dan keagamaan. Salah satu bentuk kendaraan sosial dalam upaya pemberdayaan masyarakat seperti yang diungkapkan Drs. Sanapiah Faisal dalam bukunya Menggalang Gerakan Bangun Diri Masyarakat Desa (1981).

Kendaraan sosial

Kendaraan disini dimaksudkan sebagai organisasi, perkumpulan, atau bentuk pengelompokan lainnya yang relatif permanen dan terbuka bagi masyarakat setempat. Kedudukan kendaraan sosial ini penting, karena dari sana dapat digalang gerakan bangun diri masyarakat desa. Kegagalan pembangunan desa salah satunya karena tidak adanya motor penggerak yang berasal dari kendaraan sosial tersebut. Adanya kendaraan sosial harus digalang dengan sungguh-sungguh oleh pemerintah, seperti dengan memberikan bimbingan, menopang keperluan yang tidak dapat mereka jangkau sendiri, melakukan monitoring setara kontinyu, dst. 

Sebagaimana mengenali para tokoh berpengaruh, prinsip dan caranya sama bisa dilakukan terhadap kendaraan sosial, yaitu dengan sebanyak mungkin mendengar, melihat dan bertanya. Orang pelopor pada kendaraan sosial juga harus dikenal. Pamor dan aktivitas kendaraan sosial, juga ciri khas arah dan luas jangkauan dari kendaraan sosial. Juga tidak kalah penting adalah mengenali jalinan hubungan antar kendaraan sosial setempat, atau dengan pihak-pihak lain yang dapat menunjang potensi atau tujuan dari kendaraan sosial yang ada.

Pembinaan terhadap anak

Disana baru ada beberapa bangunan yang masih sederhana disana, yaitu rumah Umi, Musholah dan Taman Anak Sejahtera (KB PAUD namun ditutup karena ditentang sebagian warga). Umi mengenola Taman Anak Sejahtera (TAS), yaitu semacam tempat penitipan anak bagi orang tua yang sibuk bekerja. Mirip seperti Taman Penitipan Anak, tapi sasaran TAS anak anak yang dari keluarga kurang mampu. Komponen bangunan yang terutama dari kayu dan bambu banyak disumbang dari masyarakat sekitar. Bahkan tanah yang ditempati pun merupakan hibah dari warga sekitar.

Ada sekitar 8 sampai 18 anak yang setiap hari dititipkan di TAS yang dikelola Umi. Kesemuanya berusia masih di bawah 5 tahun. Kebanyakan orang tua anak-anak itu berkerja di sawah dan di ladang. Dari pengakuan warga sekitar yang menitipkan anaknya, sudah terlihat banyak perubahan yang terjadi, bahkan untuk ukuran waktu seminggu mereka dititipkan. Terutama masalah ahlak dan ubudiah seperti menemui tamu dan membaca beberapa doa.

Memang demikian pola yang dibangun di TAS tersebut. Kesemuanya disampaikan sambil bermain, karena usia anak-anak apalagi masih dibawah 5 tahun masih sangat suka bermain. Dan hal itu terbukti efektif untuk menanamkan nilai-nilai akhlakul karimah sejak dini. Anak-anak itu diajak menggambar, mewarnai, berhitung dan berdoa. Bahkan saat Adzan Dzuhur, mereka berlomba-lomba untuk ambil wudhu dan ke musholah.

Keluarga adalah komponen utama dan ruang sosialisasi pertama untuk anak. Karenannya penguatan keluarga sangatlah penting. Tapi tentu tidak bisa dilakukan dengan instan dan perlu waktu yang cukup lama untuk itu. Sementara saya saksikan di TAS Nurul Ihsan Jadid ini, dimana anak-anak sudah ditanamkan akhlakul karimah dan cara-cara ubudiah yang saya yakin masih belum bisa diterapkan di dalam keluarga sekitar.

Pola pendampingan dan pengasuhan dari beberapa ibu disana dan bahkan langsung dilakukan oleh putri Umi sendiri yang masih berumur 16 tahun. Tapi sudah paham betul bagaimana mengasuh dan mendampingi anak-anak. 

Persoalannya adalah fasilitas yang masih sangat sederhana, seperti tidak ada tempat bermain dengan berbagai fasilitas bermain anak pada umumnya, tempat tidur anak yang masih sangat terbatas, kamar mandi anak, dll. Semua itu tentu sangatlah penting, hasil diskusi saya dengan rekan kerja saya. Tapi bagaimana cara mengukurnya, kalau dibandingkan dengan fasilitas TPA atau TAS yang ada di pusat kota tentu sangat jauh. 

Tapi kalau kita bandingkan dengan standar masyarakat sekitar mungkin hal itu malah lebih baik. Tentu dikemudian hari, fasilitas itu memang dibutuhkan untuk menunjang hak dasar anak, seperti perlindungan, pendidikan, kesehatan, dll. Tapi untuk sementara dengan pengakuan para orang tua anak, bahwa sudah banyak perkambangan dari anak terutama terkait akhlak dan ubudiah itu sudah cukup.

Kegiatan sosial lain

Selain mengelola TAS, Umi juga mengelola  Panti Jompo, ada beberapa Lansia yang berada disana dengan tempat seadanya yang terbuat dari bambu. Ada yang terus tinggal, tapi ada juga yang kalau malam pulang ke rumah. Mereka mengaku kerasan disana. 

Membabat alas, membangun masyarakat pinggiran, kepedulian sosial yang tinggi tercermin dalam jalan perjuangan yang ditempuh Umi. Beliau mengatakan, “Sebelum ajal menjemput saya, saya ingin berjuang bersama masyarakat, membantu masyarakat terutama kaum dhuafa, memberikan manfaat yang seluas-luasnya kepada mereka”.

Semoga kesehatan selalu dikaruniakan kepada engkau dan keluarga serta masyarakat disana. Serta istiqomah pada garis perjuangan itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar