Membedah Film Spot Light Bersama AJI Jember
Nontor
Bareng (Nobar) film “spotlight” (7/5/2016) yang diadakan oleh Aliansi Jurnalis
Independen (AJI) Jember menghadirkan Mahbub Junaidi, mantan Wartawan Tempo yang
sekarang menjadi komisioner Komisi Informasi Publik (KIP) Jawa Timur. Film yang
bercerita mengenai peliputan investigasi oleh tim dengan sebutan spotlight ini
sangat relevan tentunya dengan latar belakang Mahbub Junaidi sebagai wartawan
Tempo. Karena Tempo memang sangat dikenal sebagai media yang concern dalam hal peliputan investigasi.
Nonton
bareng dan diskusi ini dilaksanakan di sekretariat AJI Jember, Jl. Karimata No.
6A (belakang kantor Prosalina Radio) dimulai sekitar pukul 20.30 WIB sampai
23.30 WIB. Dihadiri oleh sejumlah anggota AJI Jember dan beberapa kawan dari
pers mahasiswa yang tergabung dalam Persatuan Pers Mahasiswa Indonesia (PPMI)
Jember.
Diskusinya
berjalan cukup santai, dengan pengantar nonton bareng film yang berhasil meraih
penghargaan Oscar tersebut, sehingga memberikan sedikit gambaran mengenai
peliputan investigasi. Setidaknya ada tiga hal menurut Mahbub yang bisa dipetik
dari film pengantar tersebut, pertama bagaimana
sebuah kejahatan itu sangat berpotensi untuk dilindungi sistem. Dalam hal itu kejahatan pastur yang dilindungi keuskupan di Boston. Sehingga sasaran dari investigasi yang dilakukan oleh tim spotlight adalah sistemnya.
sebuah kejahatan itu sangat berpotensi untuk dilindungi sistem. Dalam hal itu kejahatan pastur yang dilindungi keuskupan di Boston. Sehingga sasaran dari investigasi yang dilakukan oleh tim spotlight adalah sistemnya.
Kedua
peliputan investigasi tentu memerlukan riset yang matang dan waktu yang relatif
cukup lama. Investigasi memang membutuhkan waktu berbulan-bulan bahkan
bertahun-tahun untuk dapat menuntaskannya. Seperti dalam film spotlight
membutuhkan waktu 2 tahun. Bahkan sempat terhenti karena peristiwa pengeboman
terhadap WTC pada 11 September 2001.
Ketiga
adalah isu yang seringkali sudah diketahui oleh publik, namun jarang diungkap
secara mendalam oleh media. Karena daam film tersebut isu pelecehan seksual oleh
para pastur sudah sempat dilaporkan, namun selalu tidak dapat dilanjutkan.
Bahkan pihak Boston Globe mengajukan mosi publik kepada pengadilan untuk dapat
mengakses dokumen publik itu.
Ada
dua hal yang juga menjadi instrumen penggalian data dari peliputan investigasi
menurut Mahbub yang disampaikan dalam diskusi malam itu, yaitu paper trail (penelusuran dokumen) dan people trail (penelisiran narasumber).
Dua hal tersebut yang akan menuntun wartawan untuk menemukan keterkaitan berbagai
komponen yang kompleks kompleksitas dalam satu fenomena atau peristiwa yang
akan dilakukan investigasi.
Karena,
menurut Mahbub peliputan investigasi mengedepankan elemen how (bagaimana) diantara 5W+1H dalam elemen berita. Dengan how hasil investigasi akan menemukan
keutuhan dan tuntasnya proses penggalian data sampai pada penulisan. Berbeda
dengan straight news yang berangkat
dari what (apa). Ini karena dalam peliputan investigasi juga harus ada riset
awal.
Penulisan
merupakan hal yang sangat penting dalam proses penyajian berita hasil peliputan
investigasi. Sesuatu yang menurut Mahbub kurang mendapat perhatian dalam film
spotlight. Walau sempat dimunculkan sedikit pembahasan pengenai penulisan,
yaitu pilihan diksi seperti penggunaan kata sifat dan lain sebagainya oleh Marty
Baron (editor baru pada Boston Globe).
Mahbub
menganalogikan penulisan seperti penyajian makanan. Walaupun bahan makanan
berupa ikan yang baru ditangkap oleh nelayan dan masih segar serta dimasak
sedemikian rupa, tapi tidak tepat dalam proses penyajiannya, maka tetap saja
makanan tersebut akan tidak mampu menarik orang untuk memakannya. Demikian
halnya dengan berita (investigasi), sehingga perlu untuk benar-benar
memperhatikan proses penulisan berita tersebut.
Dalam
peliputan investigasi, menurut Mahbub juga bisa dilakukan dengan perorangan
(individu) atau tim (kelompok). Namun, dia menekankan untuk peliputan
investigasi alangkah lebih baiknya dilakukan dengan tim. Karena peliputan
investigasi memerlukan stamina yang besar, selain itu tentu juga pendanaan yang
mendukung. Sri Wahyuni atau akrab disapa Yuni, sekretaris AJI Jember juga
menambahkan pentingnya bekerja secara tim dalam peliputan investigasi karena
untuk memberikan dasar yang kuat terhadap proses peliputan tersebut. Dengan
antisipasi apabila dikhawatirkan dikemudian hari ada gugatan atau butuh
kesaksian terhadap proses maupun hasil atau data yang diperoleh wartawan.
Peliputan
investigasi memang membutuhkan dana yang relatif besar, namun Mahbub memberikan
tips untuk bsia meminimalisir dana tersebut atau bahkan kendala lain seperti
sulitnya akses terhadap sumber data, yaitu dengan networking (jaringan). Karena peliputan investigasi merupakan
peliputan terhadap peristiwa yang cenderung tertutup atau sengaja ditutup,
namun demikian memiliki dampak yang luas terhadap publik. Disinilah kemampuan
dari seorang wartawan investigasi bagaimana bisa menulusuri dengan tepat
berbagai sumber data.
Walaupun
demikian, jaringan ini juga harus memberikan batas khusus terhadap wartawan,
karena kedekatan atau kekaguman wartawan terhadap narasumber atau objek
peliputan bisa mengaburkan objektivitas wartawan, sehingga perlu ditekan
sedemikian rupa untuk memberikan batasan tertentu.
Terakhir,
karena peliputan investigasi adalah upaya untuk mengungkap peristiwa yang
tertutup atau sengaja ditutup, maka dibutuhkan keahlian wartawan untuk mampu
membuat narasumber memberikan data yang dibutuhkan untuk kepentingan peliputan
investigasi tersebut. Satu hal lagi, bahwa ancaman dan intimadasi merupakan hal
yang lumrah terhadap wartawan investigasi. Sehingga butuh keberanian serius dan
tentu juga perlindungan dari redaksi (editor).


Tidak ada komentar:
Posting Komentar