Sabtu, 07 Mei 2016

Membedah Film “Spot Light” Bersama AJI Jember



Membedah Film Spot Light Bersama AJI Jember


Nontor Bareng (Nobar) film “spotlight” (7/5/2016) yang diadakan oleh Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jember menghadirkan Mahbub Junaidi, mantan Wartawan Tempo yang sekarang menjadi komisioner Komisi Informasi Publik (KIP) Jawa Timur. Film yang bercerita mengenai peliputan investigasi oleh tim dengan sebutan spotlight ini sangat relevan tentunya dengan latar belakang Mahbub Junaidi sebagai wartawan Tempo. Karena Tempo memang sangat dikenal sebagai media yang concern dalam hal peliputan investigasi.

Nonton bareng dan diskusi ini dilaksanakan di sekretariat AJI Jember, Jl. Karimata No. 6A (belakang kantor Prosalina Radio) dimulai sekitar pukul 20.30 WIB sampai 23.30 WIB. Dihadiri oleh sejumlah anggota AJI Jember dan beberapa kawan dari pers mahasiswa yang tergabung dalam Persatuan Pers Mahasiswa Indonesia (PPMI) Jember.

Diskusinya berjalan cukup santai, dengan pengantar nonton bareng film yang berhasil meraih penghargaan Oscar tersebut, sehingga memberikan sedikit gambaran mengenai peliputan investigasi. Setidaknya ada tiga hal menurut Mahbub yang bisa dipetik dari film pengantar tersebut, pertama bagaimana
sebuah kejahatan itu sangat berpotensi untuk dilindungi sistem. Dalam hal itu kejahatan pastur yang dilindungi keuskupan di Boston. Sehingga sasaran dari investigasi yang dilakukan oleh tim spotlight adalah sistemnya.

Kedua peliputan investigasi tentu memerlukan riset yang matang dan waktu yang relatif cukup lama. Investigasi memang membutuhkan waktu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun untuk dapat menuntaskannya. Seperti dalam film spotlight membutuhkan waktu 2 tahun. Bahkan sempat terhenti karena peristiwa pengeboman terhadap WTC pada 11 September 2001.

Ketiga adalah isu yang seringkali sudah diketahui oleh publik, namun jarang diungkap secara mendalam oleh media. Karena daam film tersebut isu pelecehan seksual oleh para pastur sudah sempat dilaporkan, namun selalu tidak dapat dilanjutkan. Bahkan pihak Boston Globe mengajukan mosi publik kepada pengadilan untuk dapat mengakses dokumen publik itu.

Ada dua hal yang juga menjadi instrumen penggalian data dari peliputan investigasi menurut Mahbub yang disampaikan dalam diskusi malam itu, yaitu paper trail (penelusuran dokumen) dan people trail (penelisiran narasumber). Dua hal tersebut yang akan menuntun wartawan untuk menemukan keterkaitan berbagai komponen yang kompleks kompleksitas dalam satu fenomena atau peristiwa yang akan dilakukan investigasi.


Karena, menurut Mahbub peliputan investigasi mengedepankan elemen how (bagaimana) diantara 5W+1H dalam elemen berita. Dengan how hasil investigasi akan menemukan keutuhan dan tuntasnya proses penggalian data sampai pada penulisan. Berbeda dengan straight news yang berangkat dari what (apa). Ini karena dalam peliputan investigasi juga harus ada riset awal.

Penulisan merupakan hal yang sangat penting dalam proses penyajian berita hasil peliputan investigasi. Sesuatu yang menurut Mahbub kurang mendapat perhatian dalam film spotlight. Walau sempat dimunculkan sedikit pembahasan pengenai penulisan, yaitu pilihan diksi seperti penggunaan kata sifat dan lain sebagainya oleh Marty Baron (editor baru pada Boston Globe).

Mahbub menganalogikan penulisan seperti penyajian makanan. Walaupun bahan makanan berupa ikan yang baru ditangkap oleh nelayan dan masih segar serta dimasak sedemikian rupa, tapi tidak tepat dalam proses penyajiannya, maka tetap saja makanan tersebut akan tidak mampu menarik orang untuk memakannya. Demikian halnya dengan berita (investigasi), sehingga perlu untuk benar-benar memperhatikan proses penulisan berita tersebut.

Dalam peliputan investigasi, menurut Mahbub juga bisa dilakukan dengan perorangan (individu) atau tim (kelompok). Namun, dia menekankan untuk peliputan investigasi alangkah lebih baiknya dilakukan dengan tim. Karena peliputan investigasi memerlukan stamina yang besar, selain itu tentu juga pendanaan yang mendukung. Sri Wahyuni atau akrab disapa Yuni, sekretaris AJI Jember juga menambahkan pentingnya bekerja secara tim dalam peliputan investigasi karena untuk memberikan dasar yang kuat terhadap proses peliputan tersebut. Dengan antisipasi apabila dikhawatirkan dikemudian hari ada gugatan atau butuh kesaksian terhadap proses maupun hasil atau data yang diperoleh wartawan.

Peliputan investigasi memang membutuhkan dana yang relatif besar, namun Mahbub memberikan tips untuk bsia meminimalisir dana tersebut atau bahkan kendala lain seperti sulitnya akses terhadap sumber data, yaitu dengan networking (jaringan). Karena peliputan investigasi merupakan peliputan terhadap peristiwa yang cenderung tertutup atau sengaja ditutup, namun demikian memiliki dampak yang luas terhadap publik. Disinilah kemampuan dari seorang wartawan investigasi bagaimana bisa menulusuri dengan tepat berbagai sumber data.

Walaupun demikian, jaringan ini juga harus memberikan batas khusus terhadap wartawan, karena kedekatan atau kekaguman wartawan terhadap narasumber atau objek peliputan bisa mengaburkan objektivitas wartawan, sehingga perlu ditekan sedemikian rupa untuk memberikan batasan tertentu.

Terakhir, karena peliputan investigasi adalah upaya untuk mengungkap peristiwa yang tertutup atau sengaja ditutup, maka dibutuhkan keahlian wartawan untuk mampu membuat narasumber memberikan data yang dibutuhkan untuk kepentingan peliputan investigasi tersebut. Satu hal lagi, bahwa ancaman dan intimadasi merupakan hal yang lumrah terhadap wartawan investigasi. Sehingga butuh keberanian serius dan tentu juga perlindungan dari redaksi (editor).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar