Sejuta
Doa Untuk Gus Dur sebuah doa dan kumpulan novel karya Damien Demantra
bersarikan tema pluralisme. Pluralisme, sebuah paham tentang sikap tulus yang memang
dibutuhkan oleh bangsa Indonesia. Bangsa yang sangat beragam, mulai dari Bahasa,
Suku Bangsa, Agama, dan masih banyak lagi yang lainnya. Fakta itu tidak dapat dipungkiri, sehingga walaupun selaras
juga dengan potensi konflik dan gesekan antar perbedaan, tapi sebagai seorang
yang mampu memahami secara utuh, Gus Dur mampu memberikan solusi-solusi cerdas.
walau seringkali kontroversial, namun bukan Gus Dur kalau tidak tegas pada
pendiriannya dengan mengutamakan keutuhan bangsa.
Dalam
pengantarnya Prof. Dr. Syafii Maarif juga menyatakan stigma sebagian anggota
masyarakat ketika mendengarkan istilah pluralisme sebagai paham yang
seolah-olah menakutkan. Padahal pluralisme disini dikontekskan pada kebutuhan bangsa. apalagi selalu ada kelompok minoritas yang seringkali lebih membutuhkan terimplementasinya kesetaraan dan keadilan dalam hidup berbangsa dan beragama.
seolah-olah menakutkan. Padahal pluralisme disini dikontekskan pada kebutuhan bangsa. apalagi selalu ada kelompok minoritas yang seringkali lebih membutuhkan terimplementasinya kesetaraan dan keadilan dalam hidup berbangsa dan beragama.
Gus
Dur tidak hanya mampu menerapkan secara
utuh sikap tersebut ketika menjadi presiden yang notabene menjadi kepala Negara
dan kepala pemerintahan, namun sebelum dan sesudah menjadi presiden, sikap itu
sangat jelas menjiwai Gus Dur.
Dengan
menceritakan kisah hidup Gus Dur, novel ini megitu dalam mengupas kebutuhan
bangsa akan sikap pluralisme. Gus Dur yang dikenal sebagai bapak pluralis juga tentu
melewati sekian banyak pengalaman untuk sampai pada sikap yang demikian. Mulai dari
KH. Wahid Hasyim- Bapak Gus Dur yang
ingin melakukan pembaharuan di tubuh pesantren. Khususnya yang didirikan oleh
Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari-bapak KH. Wahid Hasyim yang berarti juga
kakek Gus Dur.
Pembaharuan
pembelajaran dalam pesantren yang diperoleh melalui menimba ilmu yang bukan
hanya ilmu agama menjadi dorongan kuat KH. Wahid Hasyim untuk melakukan
pembaharuan itu. Walau kondisi itu menjadikan kecemasan bagi sebagian ulama,
namun KH. Wahid Hasyim mampu menjelaskan dengan sangat masuk akal, sehingga
para kiyai akhirnya mampu menerima. Memang demikian cerdas dan luas cara
berfikir KH. Wahid Hasyim. Tidak heran beliau mampu menghasilkan
gagasan-gagasan yang kontekstual sesuai dengan semangat zamannya.
Begitupun
semangat yang diwariakan kepada KH. Abdurrahman Wahid atau kerap disapa Gus
Dur. Pengalamannya belajar di luar negeri seperti Mesir dan Irak. Pemahaman dan
keluasan ilmu keagamaan dan ilmu umum serta pertemananya dengan banyak orang dari
berbagai bangsa dan agama menjadi pengalaman yang membentuk kesadaran sikap dan
cara berfikirnya. Gus Dur menjadi simbol islam yang ramah, memang demikian
semangat islam pada awal penyebarannya, tidak ada paksaan dan semuanya
berangkat dari ketulusan. karena memang tidak ada paksaan dalam beragama, dan
Tuhan lah yang akan memberikan petunjuk bagi yang diinginkannya. Kita hanya
mensyiarkannya. Sehingga, tidak ada kekerasan atas nama agama, seperti juga Gus
Dur sangat membencinya.
Disamping
ukhuwa diniyah (hubungan dengan sesama pemeluk agama) ada ukhuwa wathoniyah (hubungan
sesama bangsa) dan ukhuwa insaniyah (hubungan sesama manusia). seperti juga
kita dijadikan bersuku-suku dan berbangsa-bangsa untuk saling mengenal satu
dengan yang lainnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar