Selasa, 27 Januari 2015

Sejuta Doa Untuk Gus Dur





Sejuta Doa Untuk Gus Dur sebuah doa dan kumpulan novel karya Damien Demantra bersarikan tema pluralisme. Pluralisme, sebuah paham tentang sikap tulus yang memang dibutuhkan oleh bangsa Indonesia. Bangsa yang sangat beragam, mulai dari Bahasa, Suku Bangsa, Agama, dan masih banyak lagi yang lainnya. Fakta itu  tidak dapat dipungkiri, sehingga walaupun selaras juga dengan potensi konflik dan gesekan antar perbedaan, tapi sebagai seorang yang mampu memahami secara utuh, Gus Dur mampu memberikan solusi-solusi cerdas. walau seringkali kontroversial, namun bukan Gus Dur kalau tidak tegas pada pendiriannya dengan mengutamakan keutuhan bangsa.

Dalam pengantarnya Prof. Dr. Syafii Maarif juga menyatakan stigma sebagian anggota masyarakat ketika mendengarkan istilah pluralisme sebagai paham yang
seolah-olah menakutkan. Padahal pluralisme disini dikontekskan pada kebutuhan bangsa. apalagi selalu ada kelompok minoritas yang seringkali lebih membutuhkan terimplementasinya kesetaraan dan keadilan dalam hidup berbangsa dan beragama.

Gus Dur  tidak hanya mampu menerapkan secara utuh sikap tersebut ketika menjadi presiden yang notabene menjadi kepala Negara dan kepala pemerintahan, namun sebelum dan sesudah menjadi presiden, sikap itu sangat jelas menjiwai Gus Dur.

Dengan menceritakan kisah hidup Gus Dur, novel ini megitu dalam mengupas kebutuhan bangsa akan sikap pluralisme. Gus Dur yang dikenal sebagai bapak pluralis juga tentu melewati sekian banyak pengalaman untuk sampai pada sikap yang demikian. Mulai dari KH. Wahid Hasyim- Bapak Gus Dur  yang ingin melakukan pembaharuan di tubuh pesantren. Khususnya yang didirikan oleh Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari-bapak KH. Wahid Hasyim yang berarti juga kakek Gus Dur.

Pembaharuan pembelajaran dalam pesantren yang diperoleh melalui menimba ilmu yang bukan hanya ilmu agama menjadi dorongan kuat KH. Wahid Hasyim untuk melakukan pembaharuan itu. Walau kondisi itu menjadikan kecemasan bagi sebagian ulama, namun KH. Wahid Hasyim mampu menjelaskan dengan sangat masuk akal, sehingga para kiyai akhirnya mampu menerima. Memang demikian cerdas dan luas cara berfikir KH. Wahid Hasyim. Tidak heran beliau mampu menghasilkan gagasan-gagasan yang kontekstual sesuai dengan semangat zamannya.

Begitupun semangat yang diwariakan kepada KH. Abdurrahman Wahid atau kerap disapa Gus Dur. Pengalamannya belajar di luar negeri seperti Mesir dan Irak. Pemahaman dan keluasan ilmu keagamaan dan ilmu umum serta pertemananya dengan banyak orang dari berbagai bangsa dan agama menjadi pengalaman yang membentuk kesadaran sikap dan cara berfikirnya. Gus Dur menjadi simbol islam yang ramah, memang demikian semangat islam pada awal penyebarannya, tidak ada paksaan dan semuanya berangkat dari ketulusan. karena memang tidak ada paksaan dalam beragama, dan Tuhan lah yang akan memberikan petunjuk bagi yang diinginkannya. Kita hanya mensyiarkannya. Sehingga, tidak ada kekerasan atas nama agama, seperti juga Gus Dur sangat membencinya.

Disamping ukhuwa diniyah (hubungan dengan sesama pemeluk agama) ada ukhuwa wathoniyah (hubungan sesama bangsa) dan ukhuwa insaniyah (hubungan sesama manusia). seperti juga kita dijadikan bersuku-suku dan berbangsa-bangsa untuk saling mengenal satu dengan yang lainnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar