Kamis, 18 Desember 2014

Realitas Perjuangan Aktivis Mahasiswa



(19 Desember 2014)

Sore ini saya bertemu dengan seorang aktivis mahasiswa yang mengalami drop out dari kampus. Dia adalah Sugeng Wahyudi seorang mahasiswa di sebuah kampus di Jember. Keinginan saya untuk bertemu dia karena cerita dari beberapa sahabat. Kurang lengkap bila tidak mendengarkan langsung darinya. 

Belum begitu jelas alasan drop out yang menimpanya. Walaupun  ada sebuah titik cerah setidaknya mengenai indikasi berbagai kasus yang pernah dikawalnya. Mulai dari kasus transparansi dana praktikum di kampusnya, yang tidak menemukan kejelasan kemudian dihapuskan sampai kasus terberanya, yaitu
pengawalan terhadap dosen cabul.

Kasus ini menjadi berat baginya karena korban adalah istri dia sendiri. Siapa yang tidak terhenyuh membayangkan menjadi dirinya pada saat itu. Sampai konsekuensi terberat yang dialaminya adalah drop out, bagi dia tidak masalah. Dia sudah cukup merasa puas dengan perjuangannya, karena dia tidak ingin orang lain mengalami seperti yang pernah dialaminya.

Ceritanya benar-benar membuatku tercengang dan tidak mampu mengungkapkan sepatah kata pun. Walaui begitu, dia tidak berharap apapun dari obrolan kami ini. Karena jelas saya juga tidak bisa mebantu apa-apa.
 Hanya karena menganggapku berangkat dari niatan yang tulus untuk mendengar kejadian yang dia alami. Mulai kamis (18/12) sore awal perjumpaan kami di jalan Sadewa no. 44, sampai obrolan selesai pada waktu maghrib, karena harus kita akhiri. Dia harus bertemu dengan beberapa orang untuk berpamitan, karena besoknya harus berangkat ke Surabaya untuk mencari kerja dan melanjutkan pendidikannya.

Perjuangannya sedikit berbuah manis ketika banyak orang yang bahkan tidak disangkanya memberikan bantuan, mulai dari jaringan sampai biaya untuk menyambung hidup. Satu hal yang pasti, dia benar-benar menerima konsekuensi itu dengan lapang dada yang saya yakin tidak banyak orang yang mampu.

Bahkan disaat seperti itupun, dia masih memikirkan organisasi yang diikuti dan diyakini menjadi wadah perjuangannya. Sebagai orang yang hanya mampu mendengarkan cerita itu dan tidak bisa berbuat lebih. Sungguh betapa besar perjuangan dia. 

Mungkin sebagian orang menilai dia sebelah mata, tapi saya benar-benar merasa memahaminya secara utuh. Begitupun karena dia tidak peduli apa kata orang. “mereka seperti itu karena mereka tidak tahu,” begitu selalu ungkapannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar