(19 Desember 2014)
Sore ini saya bertemu dengan
seorang aktivis mahasiswa yang mengalami drop
out dari kampus. Dia adalah Sugeng Wahyudi seorang mahasiswa di sebuah
kampus di Jember. Keinginan saya untuk bertemu dia karena cerita dari beberapa
sahabat. Kurang lengkap bila tidak mendengarkan langsung darinya.
Belum begitu jelas alasan drop out yang menimpanya. Walaupun ada sebuah titik cerah setidaknya mengenai indikasi
berbagai kasus yang pernah dikawalnya. Mulai dari kasus transparansi dana
praktikum di kampusnya, yang tidak menemukan kejelasan kemudian dihapuskan sampai
kasus terberanya, yaitu
pengawalan terhadap dosen cabul.
pengawalan terhadap dosen cabul.
Kasus ini menjadi berat baginya
karena korban adalah istri dia sendiri. Siapa yang tidak terhenyuh membayangkan
menjadi dirinya pada saat itu. Sampai konsekuensi terberat yang dialaminya adalah
drop out, bagi dia tidak masalah. Dia
sudah cukup merasa puas dengan perjuangannya, karena dia tidak ingin orang lain
mengalami seperti yang pernah dialaminya.
Ceritanya benar-benar membuatku
tercengang dan tidak mampu mengungkapkan sepatah kata pun. Walaui begitu, dia
tidak berharap apapun dari obrolan kami ini. Karena jelas saya juga tidak bisa
mebantu apa-apa.
Hanya karena menganggapku berangkat dari
niatan yang tulus untuk mendengar kejadian yang dia alami. Mulai kamis (18/12) sore
awal perjumpaan kami di jalan Sadewa no. 44, sampai obrolan selesai pada waktu
maghrib, karena harus kita akhiri. Dia harus bertemu dengan beberapa orang
untuk berpamitan, karena besoknya harus berangkat ke Surabaya untuk mencari
kerja dan melanjutkan pendidikannya.
Perjuangannya sedikit berbuah
manis ketika banyak orang yang bahkan tidak disangkanya memberikan bantuan,
mulai dari jaringan sampai biaya untuk menyambung hidup. Satu hal yang pasti,
dia benar-benar menerima konsekuensi itu dengan lapang dada yang saya yakin
tidak banyak orang yang mampu.
Bahkan disaat seperti itupun, dia
masih memikirkan organisasi yang diikuti dan diyakini menjadi wadah
perjuangannya. Sebagai orang yang hanya mampu mendengarkan cerita itu dan tidak
bisa berbuat lebih. Sungguh betapa besar perjuangan dia.
Mungkin sebagian orang menilai
dia sebelah mata, tapi saya benar-benar merasa memahaminya secara utuh. Begitupun
karena dia tidak peduli apa kata orang. “mereka seperti itu karena mereka tidak
tahu,” begitu selalu ungkapannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar