oleh Imam Sunarto
Hari ini sabtu (5/3) diantara terik yang mulai memendung,
dan duduk santai ku di ruang depan dekat jendela. Ada seorang kakek pengamen tepat berada di
depan kontrakanku Mastrip blog KP-10, dengan pakaian kusut dan lusuh dan langkah yang
lunglai, peci hitam yang mulai agak kecokelatan dan sepotong sarung diselempangkan serta sebuah wadah plastik kecil dia pegang.
Sekilas kuamati kakek ini terlihat lelah sekali, mungkin karena sudah menyusuri jalanan dari rumah kerumah hanya untuk mengharap belas kasih dari
orang lain untuk sudi menyedekahkan sedikit rezekinya. Tanpa kemudian harus membenarkan sepenuhnya kondisi itu,
namun bukankah ada hak orang lain dalam rezeki yang diberikan oleh Allah SWT
kepada kita, khusunya untuk anak yatim, orang fakir miskin, dan ibn sabil (orang
yang sedang dalam perjalanan mengharap ridho Allah).
Takjubku dengarkan, sang kakek dengan sembari membaca beberapa ayat dan nasehat-nasehat serta doa dari seorang kakek peminta-minta ini sungguh menyentuh.
Dia seolah begitu memahami apa yang diakatakan dengan landasan
dalil agama yang kuat, mulai dari ayat al-qur’an sampai hadits. Berbagai rasa bercampur aduk dalam diriku ketika melihat lantunan kata perkata dari kakek peminta-minta ini.
dalil agama yang kuat, mulai dari ayat al-qur’an sampai hadits. Berbagai rasa bercampur aduk dalam diriku ketika melihat lantunan kata perkata dari kakek peminta-minta ini.
Keadaan ini membuatku teringat akan sebuah baliho. Pada awalnya memang sempat ku baca dan terpampang jelas sebuah baliho besar dekat kantor Dinsos
di Jl. PB Soedirman Jember tentang himbauan untuk tidak memberikan kepada peminta-minta.
Namun dalam kondisi ini sungguh ku terasa begitu iba. Apa yang
didapatkan kakek peminta-minta ini dari lantunan kata perkatanya yang berisi nasehat,
dan doa kebaikan untuk ku yang juga turut mendengarnya. Mulai dari kepingan uang receh sampai tulisan
“ngamen gratis” bahkan pintu yang tetap tertutup walau sudah cukup lama
kakek berada di depan sebuah rumah. Semua itu pasti pernah dialaminya.
Terlihat jelas dalam wadah platik kecil itu kepingan uang receh dan beberapa lembar ribuan saja. Sebuah ikhtiyar mengais rezeki untuk mendapatkan sesuap nasi. Kembali ku ingat pernah melihat larangan untuk memberi kepada peminta-minta dari pemerintah,
khususnya himbauan dari dinassosial (Dinsos) itu. kemudian kupertanyakan pada—yang
terdekat yaitu—dirisendiri, apakah himbauan yang begitu terasa anehini—bagiku—seolah keputusan
yang
berangkat dari ketidakmampuan pemerintah dalam menangani permasalahan sosial ekonomi
yang katanya fakir miskin dan orang terlantardipeliharaoleh Negara.
Hal ini entah orang lain sepakat atau tidak,
bagiku hanya sebatas pernyataan yang tidak masuk akal. Lalu apa langkah konkretnya,
hanya menuju kejalan buntu yang sama saja menjerumuskan kejurang penderitaan.
Begitu kemelut logika dan rasa
ini pada si kakek peminta-minta sampai dia pun berlalu tanpaku beranjak sedikitpun. Bahkan hal itu tak ku sadari benar-benar kepergiannya. Hingga selang beberapa waktu sampai benar-benar tidak terlihat dan tak terdengar lagi lantunan
kata perkata seorang kakek peminta-minta yang begitu menyentuh. Sampai pada saat itu baru ku sadari mengapa tak ku rogoh kantongku dan kusisihkan sebagian rezeki dari Tuhan
yang maha sebaik-baiknya pemberi rezeki.
Bukankah tak ada tuntutan atau keharusan untuk memberikan walau sekedarnya saja. Tidak ada harga
yang pantas untuk seorang guru, dan bukankah semua orang berpotensi menjadi guru. Entah kebetulan atau tidak waktu itu aku kedatangan kakek peminta-minta
yang memberikan atau paling tidak kembali mengingatkan akan berbagai kebaikan,
sudah cukup untuk ku katakan sebagai guru.
Bahkan untuk seorang penceramah agama yang
tak perlu keliling menyusuri jalan dari rumah kerumah. Hanya tinggal duduk didepan para
jamaahnya yang sudah menunggu terlebih dahulu dalam berbagai acara keagamaan. Dengan apapun istilahnya
yang tentu tidak lebih murah dari pada keikhlasan kepada seorang kakek peminta-minta. Hal
ini bukan sebagai luapan rasa tidak senang terhadap penceramah,
karena dia juga berjuang untuk menyampaikan ajaran kembaikan melalui dakwahnya. Hanya saja ada sisi lain
yang tetap perlu untuk dilihat secara seimbang. Sungguh Maha suci Engkau wahai Dzat Maha pengatur alam semesta. Maaf kakek peminta-minta
yang kusebut saja engkau “pendakwahjalanan”,
semoga kitamasih akan dipertemukan kembali dalam keadaan yang lebih dianugerahi NikmatNya dari saat ini tentunya.
@Mastrip.KP-8
Tidak ada komentar:
Posting Komentar