Sabtu, 08 Juli 2017

Makna Kembali Pada Fitrah Bagi Warga Pergerakan





oleh Imam Sunarto


Halal bihalal
Ramadhan telah berlalu, demikian juga dengan idul fitri. Hampir seluruh masyarakat terutama yang beragama islam saling bermaaf-maafan. Banyak juga warga masyarakat yang kemudian menyelenggarakan halal bihalal bersama kelompoknya. Untuk menghidarkan diri dari hanya sebatas seremonial, maka diperlukanlah pemahaman mengenai apa sebenarnya halal bihalal itu dan apa hakikat kembali pada fitrah.

KH. M. Nur Hasan, M.Hum, dalam acara halal bihalal yang diadakan oleh pengurus PMII Rayon FISIP UNEJ (7/7), menyatakan bahwa  masing-masing kita (warga pergerakan) dibentuk oleh pengalaman-pengalaman agar menjadi seorang kader yang berkarakter sebagaimana diharapkan oleh nilai-nilai dasar pergerakan (NDP) yang jadikan pedoman dan sekaligus harapan  untuk pribadi kader secara keseluruhan.


Alumni PMII yang dikenal kharismatik di Jember tersebut menyatakan pengalaman masing-masing warga pergerakan tentu tidak persis sama. Walau kadang secara universal terdapat persamaan, namun ada yang sisi subjektif yang tentu berbeda. Perbedaan itulah yang menjadi dinamika, yang mana ada kalanya berwujud dinamika yang negatif. Karena itulah diperlukan kerelaan untuk hal-hal yang negatif dalam interaksi dengan sesama untuk dihalalkan atau menjadikannya halal.

Beliau menambahkan bahwa majelis halal bihalal seperti itu tentu seharusnya hanya terbatas pada momentum idul fitri saja, tapi juga setiap kita bertemu dengan sesama maka ruang di dalam batin kita harus tersedia untuk menghalalkan hal-hal yang negatif dalam interaksi dengan sesama. Dengan demikian in sya Allah kolektivitas dan solidaritas secara berjamaah bisa selalu dijaga setiap saat. Sehingga saat ada gesekan-gesekan kecil bisa segera dieliminasi dan kembali kepada fitrah gerakan. Menurut beliau fitrah organisasi adalah kolektivitas, egalitarianitas, dan kesetiakawanan. Apabila dalam sebuah organisasi fitrah seperti itu tidak ada, maka kita hanya akan kembali pada kehidupan pribadi-pribadi masing-masing.

Kembali pada fitrah
Setelah menjalani ibadah puasa di bulan Ramadhon, kemudian kita kembali ke fitrah kita masing-masing. Fitrah dimaknai sebagai asal mula kejadian. Secara material fitrah kita terdiri dari dua unsur yang kontradiktif. Tapi kekuasaan dari Sang Maha Pencipta yang dapat menyatukannya. Fitrah manusia berasal dari materiil tanah (disebutkan juga sebagai debu, lumpur, batu) selain itu bahan baku fitrah manusia adalah ruh ilahi. Dalam fitrah kita ada subjektivitas tapi juga ada universalitas, baik biologis dan rohani. Dalam aspek rohani ada akal (rasio), hati (qolbu) dan rasa (emosi), setiap individu memiliki tiga dimensi rohaniah yang tersebar universal. Demikian juga hukum jasmaniah, selain ada kekhususan yang berbeda seperti ada seseorang yang alergi dengan asap rokok, tapi ada juga yang tidak bisa hidup tanpa asap rokok, karena asap rokok tersebut merupakan “oksigen”nya.

Fitrah kita secara materiil dan ruh ilahi merupakan asal mula kejadian kita. Karena asal mula kejadian kita seperti itu, maka tugas dan tanggung jawab manusia tidak sama dengan mahluk lainnya. Secara Fitrah kita diberi status, yaitu sebagai abdullah atau hamba Allah (yang artinya sama dengan mahluk tuhan yang lain). Manusia tidak punya pilihan kecuali menyesuaikan dengan hukum ilahi, dan itu yang berlaku dalam jasmani kita. Fitrah kita untuk mengabdi sesuai dengan kehendak Sang Pencipta, itu juga dilekatkan diamanahkan untuk rohani kita. Tapi rohani kita bisa memilih, mau membangkang seperti mahluk yang sejajar dengan Tuhan, atau rohani kita memilih sebagai rohani yang taat, itu fitrah kita. Karena itu secara rohani fitrah kita sebagai hamba yang bebas memilih, kita bisa memilih menghamba kepada selain Sang Pencipta, seperti menghamba pada materi atau  nafsu. Tapi kita diharapkan oleh Sang Pencipta untuk menghamba padaNya sesuai dengan hukum ilahi yang berupa syariat.

Kembali fitri, kembali pada status kita sebagai hamba Allah. Tapi dalam hidup kita sadar tidak sadar sering menghamba pada selain Allah, seperti menghamba pada nafsu, ego, akal sendiri, tanpa menyelaraskan dengan ketentuan ilahi. Sehingga, walau dengan status sebagai hamba allah kita justru tidak menghamba pada Allah.

Allah memberi waktu, terutama pada bulan puasa atau Ramadhan untuk memperbaiki itu semua dan menempuh jalan menuju fitrah. Apabila sebelumnya suka mengumbar nafsu, dimana nafsu itu bermacam-macam, bisa nafsu tidur, nafsu makan, dst sehingga lalai terhadap ketentuan ilahi. Di bulan puasa diberi ruang yang sangat terbatas kepada nafsu yang bisa menjebak kita kepada selain Allah. Sehingga dengan menjalani puasa dan keluar dari bulan puasa kita menjadi benar-benar kembali pada fitrah.

Kembali pada fitrah kembali pada kekhususan kita masing-masing. Ada yang mudah karena jalan menuju tempat kembali tersebut belum terhapus sama sekali. Ada orang yang karena sangat terpesonanya kepada hal duniawi, sehingga keterpesonaan itu menutup jalan untuk kembali ke fitrahnya. Sudah kah kita kembali pada fitrah atau tersesat dalam nafsu atau ego kita sendiri?

Fitrah berikutnya yang disampaikan KH. M. Nur Hasan, M.Hum adalah fitrah manusia sebagai khalifatullah. Sudah kan kita bisa mengelola bisa mengelola alam semesta dengan berbagai fasilitas, dan rahasia sesuai dengan amanah atau harapan yang memberikan Sang Pencipta terhadap kita. Alam semesta diciptakan sebagai fasilitas bersama dan dimaksudkan untuk kemakmuran, kebaikan bersama. Pada kenyataannya banyak kesenjangan yang tidak ideal yang terlihat mulai dari komunitas kecil sampai yang besar, lokal sampai internasional. Itu realitas yang menunjukkan betapa dunia atau alam semesta dikelola dengan cara yang “melawan fitrah” yang diharapkan oleh Sang Pencipta. Kita semua menjadi bagian yang bisa jadi sadar atau tidak sadar mengafirmasi pengelolaan dunia yang seperti itu.

Menjadi fitrah adalah kembali pada kesadaran bahwa alam ini diciptakan tuhan kepada semua mahluk dan demi kesejahteraan, kemakmuran dan kebaikan semua, bukan sebagian apalagi sedikit. Apabila ada realitas seperti itu, maka menjadi tanggung jawab kita untuk mengembalikan pada fitrah. Melawan aturan kehidupan yang menyebabkan terjadinya keberjarakan antara kaya - miskin, makmur - tidak makmur. 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar