Halal bihalal
Ramadhan telah berlalu, demikian juga dengan idul fitri.
Hampir seluruh masyarakat terutama yang beragama islam saling bermaaf-maafan.
Banyak juga warga masyarakat yang kemudian menyelenggarakan halal bihalal
bersama kelompoknya. Untuk menghidarkan diri dari hanya sebatas seremonial,
maka diperlukanlah pemahaman mengenai apa sebenarnya halal bihalal itu dan apa
hakikat kembali pada fitrah.
KH. M. Nur Hasan, M.Hum, dalam acara halal bihalal yang
diadakan oleh pengurus PMII Rayon FISIP UNEJ (7/7), menyatakan bahwa masing-masing kita (warga pergerakan)
dibentuk oleh pengalaman-pengalaman agar menjadi seorang kader yang berkarakter
sebagaimana diharapkan oleh nilai-nilai dasar pergerakan (NDP) yang jadikan
pedoman dan sekaligus harapan untuk
pribadi kader secara keseluruhan.
Alumni PMII yang dikenal kharismatik di Jember tersebut
menyatakan pengalaman masing-masing warga pergerakan tentu tidak persis sama. Walau
kadang secara universal terdapat persamaan, namun ada yang sisi subjektif yang
tentu berbeda. Perbedaan itulah yang menjadi dinamika, yang mana ada kalanya
berwujud dinamika yang negatif. Karena itulah diperlukan kerelaan untuk hal-hal
yang negatif dalam interaksi dengan sesama untuk dihalalkan atau menjadikannya
halal.
Beliau menambahkan bahwa majelis halal bihalal seperti itu
tentu seharusnya hanya terbatas pada momentum idul fitri saja, tapi juga setiap
kita bertemu dengan sesama maka ruang di dalam batin kita harus tersedia untuk
menghalalkan hal-hal yang negatif dalam interaksi dengan sesama. Dengan
demikian in sya Allah kolektivitas dan solidaritas secara berjamaah bisa selalu
dijaga setiap saat. Sehingga saat ada gesekan-gesekan kecil bisa segera dieliminasi
dan kembali kepada fitrah gerakan. Menurut beliau fitrah organisasi adalah kolektivitas,
egalitarianitas, dan kesetiakawanan. Apabila dalam sebuah organisasi fitrah
seperti itu tidak ada, maka kita hanya akan kembali pada kehidupan
pribadi-pribadi masing-masing.
Kembali pada fitrah
Setelah menjalani ibadah puasa di bulan Ramadhon, kemudian
kita kembali ke fitrah kita masing-masing. Fitrah dimaknai sebagai asal mula
kejadian. Secara material fitrah kita terdiri dari dua unsur yang kontradiktif.
Tapi kekuasaan dari Sang Maha Pencipta yang dapat menyatukannya. Fitrah manusia
berasal dari materiil tanah (disebutkan juga sebagai debu, lumpur, batu) selain
itu bahan baku fitrah manusia adalah ruh ilahi. Dalam fitrah kita ada
subjektivitas tapi juga ada universalitas, baik biologis dan rohani. Dalam
aspek rohani ada akal (rasio), hati (qolbu) dan rasa (emosi), setiap individu
memiliki tiga dimensi rohaniah yang tersebar universal. Demikian juga hukum
jasmaniah, selain ada kekhususan yang berbeda seperti ada seseorang yang alergi
dengan asap rokok, tapi ada juga yang tidak bisa hidup tanpa asap rokok, karena
asap rokok tersebut merupakan “oksigen”nya.
Fitrah kita secara materiil dan ruh ilahi merupakan asal mula
kejadian kita. Karena asal mula kejadian kita seperti itu, maka tugas dan
tanggung jawab manusia tidak sama dengan mahluk lainnya. Secara Fitrah kita
diberi status, yaitu sebagai abdullah
atau hamba Allah (yang artinya sama dengan mahluk tuhan yang lain). Manusia
tidak punya pilihan kecuali menyesuaikan dengan hukum ilahi, dan itu yang
berlaku dalam jasmani kita. Fitrah kita untuk mengabdi sesuai dengan kehendak Sang
Pencipta, itu juga dilekatkan diamanahkan untuk rohani kita. Tapi rohani kita
bisa memilih, mau membangkang seperti mahluk yang sejajar dengan Tuhan, atau
rohani kita memilih sebagai rohani yang taat, itu fitrah kita. Karena itu
secara rohani fitrah kita sebagai hamba yang bebas memilih, kita bisa memilih
menghamba kepada selain Sang Pencipta, seperti menghamba pada materi atau nafsu. Tapi kita diharapkan oleh Sang Pencipta
untuk menghamba padaNya sesuai dengan hukum ilahi yang berupa syariat.
Kembali fitri, kembali pada status kita sebagai hamba Allah.
Tapi dalam hidup kita sadar tidak sadar sering menghamba pada selain Allah,
seperti menghamba pada nafsu, ego, akal sendiri, tanpa menyelaraskan dengan
ketentuan ilahi. Sehingga, walau dengan status sebagai hamba allah kita justru
tidak menghamba pada Allah.
Allah memberi waktu, terutama pada bulan puasa atau Ramadhan
untuk memperbaiki itu semua dan menempuh jalan menuju fitrah. Apabila
sebelumnya suka mengumbar nafsu, dimana nafsu itu bermacam-macam, bisa nafsu
tidur, nafsu makan, dst sehingga lalai terhadap ketentuan ilahi. Di bulan puasa
diberi ruang yang sangat terbatas kepada nafsu yang bisa menjebak kita kepada
selain Allah. Sehingga dengan menjalani puasa dan keluar dari bulan puasa kita
menjadi benar-benar kembali pada fitrah.
Kembali pada fitrah kembali pada kekhususan kita masing-masing.
Ada yang mudah karena jalan menuju tempat kembali tersebut belum terhapus sama
sekali. Ada orang yang karena sangat terpesonanya kepada hal duniawi, sehingga
keterpesonaan itu menutup jalan untuk kembali ke fitrahnya. Sudah kah kita
kembali pada fitrah atau tersesat dalam nafsu atau ego kita sendiri?
Fitrah berikutnya yang disampaikan KH. M. Nur Hasan, M.Hum adalah
fitrah manusia sebagai khalifatullah.
Sudah kan kita bisa mengelola bisa mengelola alam semesta dengan berbagai
fasilitas, dan rahasia sesuai dengan amanah atau harapan yang memberikan Sang Pencipta
terhadap kita. Alam semesta diciptakan sebagai fasilitas bersama dan
dimaksudkan untuk kemakmuran, kebaikan bersama. Pada kenyataannya banyak
kesenjangan yang tidak ideal yang terlihat mulai dari komunitas kecil sampai
yang besar, lokal sampai internasional. Itu realitas yang menunjukkan betapa
dunia atau alam semesta dikelola dengan cara yang “melawan fitrah” yang
diharapkan oleh Sang Pencipta. Kita semua menjadi bagian yang bisa jadi sadar
atau tidak sadar mengafirmasi pengelolaan dunia yang seperti itu.
Menjadi fitrah adalah kembali pada kesadaran bahwa alam ini diciptakan tuhan kepada semua mahluk dan demi kesejahteraan, kemakmuran dan kebaikan semua, bukan sebagian apalagi sedikit. Apabila ada realitas seperti itu, maka menjadi tanggung jawab kita untuk mengembalikan pada fitrah. Melawan aturan kehidupan yang menyebabkan terjadinya keberjarakan antara kaya - miskin, makmur - tidak makmur.
Menjadi fitrah adalah kembali pada kesadaran bahwa alam ini diciptakan tuhan kepada semua mahluk dan demi kesejahteraan, kemakmuran dan kebaikan semua, bukan sebagian apalagi sedikit. Apabila ada realitas seperti itu, maka menjadi tanggung jawab kita untuk mengembalikan pada fitrah. Melawan aturan kehidupan yang menyebabkan terjadinya keberjarakan antara kaya - miskin, makmur - tidak makmur.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar